Karena
limbah dibuang ke lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata
dan menyebar di lingkungan yang luas. Limbah gas terbawa angin dari satu
tempat ke tempat lainnya. Limbah cair atau padat yang dibuang ke
sungai, dihanyutkan dari hulu sampai jauh ke hilir, melampaui
batas-batas wilayah akhirnya bermuara di laut atau danau, seolah-olah
laut atau danau menjadi tong sampah.
Limbah bermasalah antara lain berasal dari kegiatan pemukiman, industri, pertanian, pertambangan dan rekreasi.
Limbah
pemukiman selain berupa limbah padat yaitu sampah rumah tangga, juga
berupa tinja dan limbah cair yang semuanya dapat mencemari lingkungan
perairan. Air yang tercemar akan menjadi sumber penyakit menular.
Limbah industri baik berupa gas, cair maupun padat umumnya termasuk kategori atau dengan sifat limbah B3.
Kegiatan
industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ternyata
juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan perairan, tanah,
dan udara. Limbah cair, yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang
dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota
air. Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah.
Limbah gas yang dibuang ke udara pada umumnya mengandung senyawa kimia berupa SOx, NOx, CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx
di udara dapat menyebabkan terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan
kerugian karena merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian
dan hutan.
Limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3) yang sangat ditakuti adalah limbah
dari industri kimia. Limbah dari industri kimia pada umumnya mengandung
berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan
beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia.
Limbah
pertanian yang paling utama ialah pestisida dan pupuk. Walau pestisida
digunakan untuk membunuh hama, ternyata karena pemakaiannya yang tidak
sesuai dengan peraturan keselamatan kerja, pestisida menjadi
biosida–pembunuh kehidupan. Pestisida yang berlebihan pemakaiannya,
akhirnya mengkontaminasi sayuran dan buah-buahan yang dapat menyebabkan
keracunan konsumennya.
Pupuk sering dipakai berlebihan, sisanya bila sampai di perairan dapat merangsang pertumbuhan gulma penyebab timbulnya eutrofikasi. Pemakaian herbisida untuk mengatasi eutrofikasi menjadi penyebab terkontaminasinya ikan, udang dan biota air lainnya.
Pertambangan
memerlukan proses lanjutan pengolahan hasil tambang menjadi bahan yang
diinginkan. Misalnya proses di pertambangan emas, memerlukan bahan air
raksa atau mercury akan menghasilkan limbah logam berat cair penyebab
keracunan syaraf dan merupakan bahan teratogenik.
Kegiatan
sektor pariwisata menimbulkan limbah melalui sarana transportasi,
dengan limbah gas buang di udara, tumpahan minyak dan oli di laut
sebagai limbah perahu atau kapal motor di kawasan wisata bahari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar