Hari Baru, Teman-teman.
Mengapa
Anda bersedia untuk mendengar ketika seseorang berbicara pada Anda?
Antara lain karena Anda percaya kepadanya kan? Seandainya tidak
mempercayainya, maka Anda tidak akan tertarik untuk mendengarnya.
Bahkan, bisa saja tidak tertarik untuk mengenalnya lagi. Dan kita ingin
menjauh dari orang-orang yang tidak kita percayai lagi kan? Jika hal itu
berlaku bagi orang lain, maka itu juga berlaku bagi kita. Artinya,
orang lain pun tidak akan mau mendengar kita jika mereka tidak percaya
kepada kita. Mendengar saja tidak mau. Apalagi mengamanahkan sesuatu
kan? Ini menujukkan bahwa ‘kepercayaan’ adalah segala-galanya. Lantas,
“Apa sih yang membuat kita kehilangan kepercayaan?”
Di
sekitar kita, ada banyak fenomena yang bisa dijadikan sarana untuk
bercermin. Agar bisa menjadi pribadi yang layak dipercaya. Di kantor,
misalnya. Mungkin Anda mengenal seseorang yang apapun yang dikatakannya
Anda tidak mau percaya lagi. Karena semua orang dikantor tahu bahwa
orang itu ‘tukang ngibul’. Jika Anda seorang pebisnis, mungkin Anda
mengenal seorang rekan bisnis yang janji mau bayar hutang tapi tidak
pernah terealisasi. Anda, tentu tidak mau lagi berbisnis dengannya kan?
Kalau
pernah memergoki suami atau istri Anda melakukan sesuatu yang tidak
patut; apakah Anda akan selalu percaya kepadanya? Percaya sih, kan sudah
memaafkan. Tapi didalam hati, kadang muncul sebuah tanda tanya kan? Di
gedung DPR, Anda masih percaya pada para penghuninya? Fenomena
meningkatnya golput menunjukkan sudah semakin lunturnya kepercayaan
publik kepada lembaga terhormat itu.
Dari
fenomena yang ada, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kepercayaan
bisa hilang hanya karena kata-kata kita, tidak sesuai dengan perilaku
atau tindakan yang kita tunjukkan. Kepada atasan yang doyan
janji-janji doang, Anda tidak percaya lagi kan? Pada anak buah yang
‘iya-iya tapi tidak’ Anda kesal sekali tentunya. Kepada mitra yang hanya
bicara tanpa tindakan, Anda ogah bergaul lama-lama. Bagaimana dengan
mereka yang hanya dekat setiap 5 tahun sekali kepada rakyat? Bahkan
orang yang terjerat fanatisme pada golongannya pun sebenarnya sadar
bahwa; janji, jargon, dan kata-kata indah mereka itu tidak dijamin bakal
sama dengan perilakunya.
Didalam
kitab suci, Tuhan sudah memperingatkan bahwa kemarahanNya sungguh
sangat besar kepada orang-orang yang mengatakan sesuatu yang tidak
dilakukannya. Artinya, lain dibibir lain dihati. Lain diperkataan, lain
diperbuatan. Bahasa paling sederhananya adalah ‘bo-ong’. Sederhana
memang, tampaknya. Tapi dampaknya sungguh luar biasa. “Lah, cuman bo-ong
segitu doang kok dipikirin…” Banyak orang yang bilang begitu kan?
Padahal setiap tindak kriminal, maupun kerusakan atau kekacauan apapun
yang terjadi di muka bumi ini; berkaitan dengan – minimal – satu
kobohongan.
Tidak
ada hal lain yang bisa dipegang dari seorang manusia selain
kata-katanya. Jika kata-katanya sudah tidak bisa dipegang lagi, maka
kita tidak bisa mempercayainya lagi. “Lah, kalau nggak dipercaya sama si
ini, kan bisa cari orang lain yang masih mau percaya kan? Toh masih
banyak orang yang bisa dibo-ongin dan dibodongin.” Mungkin ada juga
orang yang berpikiran demikian. Makanya, tidak kapok-kapok berbo-ong.
Toh selalu ada ‘audience lain’ yang akan percaya kan?
Memang,
fenomena itu terasa kental di lingkungan kita. Semoga saja kita tidak
ikut terjerat kedalamnya. Karena. Meskipun tampaknya sederhana, bo-ong
itu parah banget konsekuensinya. Anda, tentu masih ingat Rasulullah yang
mengingatkan bahwa salah satu dari 3 – tiga – ciri orang munafik
adalah; “jika berkata, dia berdusta”. Bayangkan, Rasulullah saja sudah memperingatkan sedemikian kerasnya. Masak sih kita menganggap enteng begitu?
Mungkin
manusia masih mau percaya pada kita. Apalagi di zaman yang segalanya
bisa dibeli seperti saat ini kan. Asal ada imbalannya, maka segala
sesuatunya bisa terjadi. Iyya, kalau kita hanya mikirin penilaian
manusia. Memangnya kita tidak percaya bahwa kelak kita akan mati juga?
Lalu berhadapan dengan Sang Maha Menyaksikan. Dzat yang tahu persis apa
yang kita sembunyikan didalam hati. Dia yang memberi siksa atau pahala.
Atas segala sesuatu yang kita ucapkan dan lakukan. Meski sebesar butiran
debu sekalipun.
Atau
jangan-jangan, bukan kepercayaan orang lain pada kita yang hilang itu.
Melainkan, kepercayaan kita kepada Tuhan. Mungkin kita tidak percaya
lagi bahwa Tuhan punya kuasa pada kita. Sehingga demi kekuasaan kita
bersedia melakukan apa saja. Demi jabatan kita sanggup melakukan apapun.
Demi mengejar harta kita tega melanggar norma-norma. Karena kepercayaan
kita kepada kuasanya Tuhan; sudah tak ada. Na’udzubillah.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
Catatan Kaki:
Kepercayaan
orang yang hilang bisa digantikan oleh kepercayaan orang lain yang
masih percaya kepada kita. Tapi jika masih suka mengakali kepercayaan
orang, mungkin kita tidak lagi percaya bahwa Tuhan menyaksikan setiap
ucapan dan tindakan yang kita lakukan.
Kesibukan
sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai
milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate
melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “S (=Spiritualism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo. com/group/NatIn/
Silakan
teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan
tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan
karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan;
belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar